HOHOHO Pernahkah mendapat pengalaman berkesan dari penerbangan ASI pertama Ibu?

Bagi Ibu menyusui (busui) bekerja yang dinas ke luar kota atau busui yang suka travelling, membawa ASI dalam perjalanan adalah sebuah keputusan yang perlu dipikirkan matang. Memerah ASI saat perjalanan untuk si buah hati yang jauh dari Ibu kadang kala dibutuhkan. Beberapa Ibu memilih susu formula untuk si buah hati saat mereka bekerja jauh, sedang beberapa Ibu lainnya masih berjuang untuk memenuhi hak ASI eksklusif.

Pemenuhan ASI ekslusif adalah hal yang perlu diperjuangkan untuk anak pertama. Saya merasa waktu singkat itu sangatlah sayang jika dilewatkan. Ekslusif 6 bulan bagus, lanjut hingga 2 tahun luar biasa. Investasi yang berharga bagi buah hati saya.

Kali ini saya akan bagi cerita, penerbangan pertama menggunakan Sriwijaya Air dengan membawa ASIP (Air Susu Ibu Perah). Pertengahan Desember saya melakukan perjalanan SOC-CGK lalu CGK-DMK (dari Solo hingga Bangkok). Penerbangan Mama Eping yang selalu membawa coolerbag, coolerbox, blue gels dan beberapa ASIP beku.

Saat check in di konter Sriwijaya SOC, semua pengecekan berjalan lancar hingga ground staf menanyakan perihal coolbox yang sy tenteng. Saya ditegur ground staff untuk menyimpan cooler box kapasitas 5L (liter) ke dalam bagasi pesawat. Hal yang tak pernah saya lakukan sebelumnya: menyimpan coolerbox di bagasi, karena saya tahu resikonya cara penanganan barang/tas/koper di bandara Indonesia. Setelah itu ground staff menyampaikan aturan Sriwijaya Air hanya memperbolehkan membawa 1 tentengan (tas/koper/bawaan) berkapasitas 5kg ke dalam kabin. Perdebatan pun mulai…

  • Berdalih aturan penerbangan ground staff tetap memaksa. Saya katakan selama ini membawa ASIP dengan maskapai Garuda Indonesia, Singapore Air, Scoot, Tigerways dan Air Asia. Tidak ada satu pun dari groundstaff melarang saya membawa ASIP ke dalam kabin.
  • Mulai ASIP yang tersimpan di coolerbag hingga ASIP yang saya tenteng memakai coolerbox dengan berat total 10kg.
  • ASIP saya kemas ke dalam botol plastik khusus ASI untuk menyimpan ASIP fresh usai jadwal pumping, yakni 2 jam sekali.
  • Sisaya ASIP beku yang tersimpan di dalam kantong plastik ASI bervolume 100-200cc.
  • ASIP saya selalu lolos masuk kabin pesawat.
  • Saya pun menambahkan bahwa ASIP selalu lolos saat security check di bandara Bangkok, Singapore dan Jakarta.
  • Lalu kenapa?
  • Apa yang perlu dikhawatirkan?

Ground staff pun tidak bisa menjawab dan memerlukan waktu panjang untuk konfirmasi sana sini. Meskipun saya sudah menyerahkan selembar aturan dibawah ini kepadanya.

  • Menurut aturan SKEP/43/III/2007 – Tentang Penanganan Liquid Aerosol Gel dalam Penerbangan. Pasal 3 ayat 2 yang tertulis :

Persyaratan Cairan, Aerosol, dan Gel (Liquids, Aerosols and Gels) sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tidak berlaku untuk :
a. obat-obatan medis;
b. makanan / minuman / susu bayi ; dan
c. makanan / minuman penumpang untuk program diet khusus

  • Saya memaklumi hal ini, peristiwa saat itu benar benar menunjukkan bahwa ground staff kurang ilmu dan tidak update aturan. Sangat disayangkan!
  • Mood saya pun udah berubah total melihat groundstaff tidak mengecek isi coolerbox saya. Isi coolerbox ini adalah 4 buah blue gel dan ASIP dalam kondisi beku (tidak sampai 10 plastik). Mama Eping pasti tahu berharganya ASIP yang kita kumpulkan tetes demi tetes.

Akhirnyaaa groundstaff menghubungi bagian security, apakah ASI boleh dibawa ke kabin? Jawaban security  “ASI termasuk liquid sehingga dimasukkan ke bagasi”

WHAT!!!??

Saya sadar debat ini menguras energi karena ketidaktahuan tentang ASI. Akhirnya saya memutuskan segera membungkus coolerbox dengan plastik wrap dan menyerahkan ke petugas untuk disimpan dalam bagasi.

Berhenti sampai disitu?? — TIDAK

Saya masih menanyakan kepada groundstaff saat boarding check. Masih menginginkan membawa ASIP di kabin. Jawabanya? SAMA. Bagaimana jika terjadi kerusakan pada coolerbox dan isinya? Jawaban groundstaff “Ibu bisa melaporkanya ke pusat”.

YAYAYA, urusan susu rusak mah bukan pikiran mereka, rusak tinggal buang!

Sesampai di Soekarno-Hatta Airport menunggu di Belt 4, Jakarta

Seperti saya duga, pembungkus wrap sudah terkelupas, coolerbox retak pecah beberapa bagian ujung dan blue ice sudah berubah lembek alias mencair. Ini nih! Alasan yang saya khawatirkan jika transit di bandara SoeTa, penanganan pemindahan barang bagasi yang kurang baik. Padahal penerbangan lanjutan saya adalah DMK dengan lama perjalanan 3 jam. Melapor bagian pusat? tidak sempat! yang bisa dilakukan adalah menanyakan pertanggungjawaban mereka via media sosial.

Sangat sulit untuk menerima “Ya sudahlah, barang rusak mau gimana lagi?” Karena penyebab kerusakan ini adalah kebodohan.

Sembari saya menenteng coolerbox rusak, saya pun bergegas untuk pindah meneruskan perjalanan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *