MEMBANGUN KETERIKATAN SAAT LAHIR DAN SESUDAHNYA

MEMBANGUN KETERIKATAN SAAT LAHIR DAN SESUDAHNYA

Gendong Bayi, Life Is Good, Travelling With Baby
Menunggu kelahiran sang buah hati adalah waktu yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Beberapa antisipasi yang baik dilakukan orangtua untuk mendukung persalinan lancar. Sesaat pertemuan antara Si Ibu dan bayinya, sangatlah menajubkan. Proses ini kadangkala berjalan sesuai harapan namun terkadang tidak.
Sesaat bayi dilahirkan, secara naluri si ibu ingin sekali menyentuh bayinya. Sentuhan ini menimbulkan keterikatan atau “bonding” yang muncul antara ibu dan bayi.
Suatu cara orangtua dan bayi untuk mengenal satu sama lain di saat-saat awal kelahiran disebut keterikatan. Bayi yang menerima banyak cinta dari Ibu dan Ayah akan merespon dengan menunjukkan perilaku beragam, contohnya tatapan tajam saat melihat Ibunya. Bayi akan mengenal siapa Ibu dan ayahnya di saat proses ini.
Proses keterikatan ini muncul dalam beberapa hari bahkan berbulan bulan tergantung kondisi kesehatan orangtua khususnya Ibu. Ibu yang melahirkan spontan dan dekat dengan bayinya lebih mudah membangun keterikatan. Lalu bagaimana dengan Ibu yang melahirkan cesar?
Ibu yang melahirkan cesar memerlukan waktu untuk membangun keterikatan. Perencanaan dan antisipasi yang baik dengan pihak rumah bersalin sangat mendukung keberhasilan proses ini. Peran Ayah pun sangat dibutuhkan untuk menggantikan Ibu dalam menjalin keterikatan sesegera mungkin.
Sesaat ibu memeluk bayi baru lahir, keterikatan inipun terbentuk. Ibu merasa ingin memeluk atau menggendong bayinya sesering mungkin. Menggendong bayi baru lahir dengan tangan atau media gendong sama-sama membangun keterikatan. Hanya saja menggendong dengan gendongan bayi lebih memudahkan orangtua dan membantu meringankan beban yang terasa. Kadang kala menggendong bayi baru lahir dirasa mudah saat ada keluarga besar yang membantu pengasuhan. Namun bagi orangtua muda yang jauh dari keluarga, proses menggendong bayi baru lahir adalah sebuah tantangan. Kadang kala kesulitan-kesulitan muncul saat menggendong si bayi.
Letsgendong memahami proses ini dan hadir diantara orangtua untuk memudahkan informasi dengan edukasi. Orangtua di Pekalongan, Jawa Tengah dapat berkumpul bersama tim Pekalongan Menggendong untuk berbagi informasi terkait menggendong bayi baru lahir.
Acara akan dilangsungkan di Alun-Alun Kajen, Pekalongan.
Pukul 07.00 – 09.00 (pagi) WIB
Hari Ahad 31 Maret 2019
Please follow IG @letsgendong dan explore more website
Anda dapat menghubungi narahubung yang tertera diatas atau mendaftar langsung  dengan klik DAFTAR
Letsgendong terbuka untuk siapa saja yang ingin memberi inspirasi, kebebasan berkarya dan memberikan keceriaan, selaras dengan tagline LETSGENDONG – INSPIRE – FREEDOM – FUN
Bantu mencapai 10.000 member di Instagram
Follow cuitan Twitter 
Untuk kuliah online Telegram
Sebuah Sejarah Manusia Menggendong Bayinya

Sebuah Sejarah Manusia Menggendong Bayinya

Gendong Bayi, Travelling With Baby

Sejarah manusia purba mulai berdiri, bersosialisasi dan memperbanyak keturunan sudah dituliskan. Saat membaca ini, Apakah Ibu memikirkan saat bayi purba lahir apa yang pertama kali dilakukannya? Apakah merangkul Ibu purbanya? atau bagaimana bayi mungil merangkul Ibunya yang sudah berdiri tegak?

Manusia, orangutan dan koala adalah makhluk yang memiliki naluri untuk saling merangkul sesaat bayi dilahirkan. Adakah hewan yang sejenis seperilaku? Bayi baru lahir selalu dekat dengan induknya karena induk memahami konsep bahwa lingkungan luar sangat berbahaya bagi si bayi. Sembari induk mencari makanan atau tempat teduh, bayi ini selalu dibawa. Namun bayi baru lahir akan kesulitan merangkul ibunya yang sudah berdiri tegak dan berjalan. Sebagai manusia yang berakal dan memiliki insting istimewa, manusia purba mencari dan membuat sebuah alat untuk menggendong bayinya secara alami. Alat ini membantu mereka untuk melakukan pekerjaan mencari makan dan kehidupan keseharian. Teknologi yang ditemukan puluhan ribu tahun yang lalu.

Blaffer Hrdy, S. dalam bukunya Mother Nature – Maternal Instincts and the Shaping of The Species mengatakan bahwa penemuan alat penggendong bayi memainkan peran sangat menentukan dalam perkembangan spesies manusia. Pada awalnya, manusia purba menciptakan alat penggendong bayi dari bahan-bahan yang ada di alam, seperti kulit kayu, dedaunan dan kulit binatang yang ada disekitarnya. Bahan ini dibuat sedemikian rupa sehingga manusia purba dapat menempelkan bayi di tubuhnya.

Ketika gaya bertahan hidup manusia purba berubah dari nomaden ke menetap maka gaya merawat bayinya pun mengalami perubahan. Manusia purba menitipkan bayi ke anggota keluarga di rumah, sedangkan Ibu/Ayah melakukan pekerjaan lainnya. Perbedaan cuaca di beberapa wilayah manusia purba pun mempengaruhi gaya menggendong si bayi. Manusia yang hidup di cuaca panas cenderung menggendong bayi supaya lebih dekat dengan payudra untuk akses menyusui lebih mudah. Berbeda manusia yang hidup di cuaca dingin lebih banyak meletakkan bayinya di tempat bayi.

Seiring perkembangan jaman dan pada tahun 1900an manusia memakai kain panjang untuk mendekapkan si bayi dan orangtua dapat melakukan perkerjaanya dengan bebas. Akhir 1960-an seorang wanita Amerika terinspirasi oleh para wanita Afrika membawa bayi mereka di punggung, di Togo, Afrika Barat. Lantas menciptakan gendongan bayi berbentuk seperti ransel dengan brand Snugli. Pada 1970-an, muncullah perusahaan gendongan kain pertama dari Jerman, yakni Didymos. Inspirasi membuat gendongan setelah mendapat rebozo Meksiko, dan mengembangkanya dengan beberapa kain.
Pada awal 1980-an, gendongan selempang dengan cincin ditemukan oleh Rayner Gardner untuk membantu istrinya. Gardner menjual idenya kepada Dr William Sears dan istrinya, Mary kemudian menemukan istilah ‘babywearing’ setelah menggunakan gendongan selempang untuk menggendong anak mereka.

Betapa perjalanan yang panjang dari logika dan naluri manusia untuk memberi keamanan pada buah hatinya. Menggendong anak yang banyak memberi manfaat untuk si bayi dan juga orangtua

Ikuti Tips Ini Saat Anda Menyusui Bayi di Dalam Gendongan 

Ikuti Tips Ini Saat Anda Menyusui Bayi di Dalam Gendongan 

Gendong Bayi, Menyusui, Travelling With Baby

“Pengin banget jalan-jalan ke luar, tapi masih punya bayi kecil”

“Repot gak ya? belum nanti menyusinya..”

Tenang Bunda, pikiran yang tenang akan membuat si bayi tenang. Bunda bisa menikmati sesi jalan-jalan yang menyenangkan bersama keluarga. Hal yang menyenangkan akan membuat Bunda bahagia akhirnya bayipun ikut bahagia. Bayi yang masih digendong tak jadi soal, begitu juga dengan bayi yang masih menyusu. Semua hal itu ada solusinya..

Gendongan bayi akan membantu Bunda meringankan kegiatan sehingga terasa nyaman saat jalan-jalan santai. Jenis gendongan apa yang umumnya dipakai saat jalan-jalan ya? Kali ini kita akan bahas Gendongan SOFT STRUCTURED CARRIER (SSC) yuk

Nah saat si bayi lapar dan minta menyusu, Bunda terselamatkan karena gendongan bayi ini. Kenapa? Gendongan bayi ini umumnya mempunyai penutup kepala yang dapat pula difungsikan untuk menyamarkan aktivitas menyusui. Berikut tips menyusui menggunakan gendongan SSC (*model dalam foto adalah member Indonesia Babywearing Club):

Bunda perlu berlatih menyusui bayi dengan posisi duduk. Seolah olah Bunda membayangkan akan menyusui bayinya di tempat umum. Setelah Bunda percaya diri dengan cara menyusui ini, Bunda berlatih menyusui dengan memakai gendongan SSC. Berlatihlah di depan cermin hingga terlihat luwes dan percaya diri.

Ketika bayi didalam gendongan SSC dan siap menyusu, Bunda mencari tempat untuk duduk. Anggaplah sesi menyusu ini adalah waktu istirahat Bunda yang menyenangkan. Bunda dapat melonggarkan tali pengikat di area lengan atau punggung atau pinggang untuk memposisikan bayi tepat di payudara dan memberikan ruang. Perhatikan badan bayi saat menyusu terlihat nyaman.

Bunda selalu perhatikan kepala bayi supaya posisi menyusu dengan nyaman dan tidak terhambat. Dengarkan ritme suara si bayi saat menyusu untuk memastikan dia dalam kondisi baik. Suasana menyusui yang tenang dan nyaman sangat diperlukan saat ini.

Selama bayi menyusui dalam gendongan, topanglah dengan bantuan tangan bila diperlukan. Kadang bayi bergerak-gerak saat menyusu khususnya bayi kecil yang belum mampu mengontrol tubuhnya.

Selesai sesi menyusui, perbaiki posisi bayi dalam gendongan dan kencangkan kembali tali pengikat yang kendur. Berkomunikasi dengan bayi bahwa Bunda siap untuk melakukan perjalanan lagi.

Silakan mencoba tips ini ya Bunda dan selamat jalan-jalan!

Ingin mengetahui hal lain tentang menggendong bayi, seperti apa yang dipakai dan bagaimana menggunakannya?

Silakan mengikuti dan belajar bersama di Instagram @letsgendong atau bergabung di FB Grup Indonesia Babywearing Club 

Nantikan kuliah online yang dipandu konsultan menggendong setiap bulannya! Join Channel Telegram t.me/letsgendong

 

 

MENGGENDONG DAN MENYUSUI SELAYAKNYA TEMAN SEJATI

MENGGENDONG DAN MENYUSUI SELAYAKNYA TEMAN SEJATI

Gendong Bayi, Menyusui, Travelling With Baby
Ilustrasi Menyusui
Sumber: Google Image

Kala itu terpancar kebahagiaan sesaat bayi mungil lahir. Aku ingat dokter segera meletakkan bayiku di dada supaya dia mampu merasakan detak jantungku yang menenangkan dan berusaha untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Secara naluri kupeluk tubuh mungil itu.

Itulah pertama kali diriku merasakan ikatan yang kuat, sangat menyenangkan!

Aku yakin, berjalannya waktu aku mampu menyusui dan menggendong bayiku. Dua hal penting yang tak terpisahkan. Bayiku sangat pintar menyusu saat dipangkuanku.

Boleh dikatakan menggendong dan menyusui selayaknya teman sejati. Betulkah? Atau suatu kebetulan? Mari simak hal ini

Sahabat letsgendong mampu menyusui saat menggendong bayinya, baik digendong langsung atau dengan bantuan gendongan bayi. Bagaimana melakukannya? Tergantung jenis gendongan bayi yang sahabat pakai. Pada intinya pakaian yang nyaman saat menyusui, pengaturan gendongan bayi dan posisi bayi sehingga bayi menemukan akses mudah untuk menyusui. Jangan lupa setelah menyusui untuk mengembalikan bayi ke posisi yang aman didalam gendongan.

BACA JUGA: Ikuti Tips Ini Saat Anda Menyusui Bayi di Dalam Gendongan 

  1.  1. Sahabat letsgendong tahu lebih cepat tanda bayi lapar

Saat sahabat menggendong si buah hati, Anda tahu bahwa kedekatan tersebut mempermudah untuk mengenali gerak gerik, suara, tanda dan waktu si bayi. Berkat aktivitas menggendong ini, sahabat akan belajar untuk memahami arti dari sinyal si bayi. Sangat mudah untuk mengenali tanda tanda bayi siap menyusui atau saat bayi Anda lapar.

Posisi menggendong yang mendekatkan kulit ke kulit mempengaruhi suplai ASI lebih banyak dan bayi akan merasa senang.

2. Menggendong membuat nyaman bayi

Saat bayi dalam kondisi rewel bisa jadi karena bayi bosan, lapar atau mengantuk, menempatkan bayi ke dalam gendongan adalah cara yang tepat. Cara ini efektif menghemat energi sahabat letsgendong. Saat bayi sudah tenang Ibu bisa mengajak si bayi jalan-jalan atau bahkan menyusuinya. Ketika terjadi kontak mata dan sentuhan kedekatan antara Ibu dan bayi, hormon oksitosin memberikan rasa senang dan menenangkan.

3. Gendongan bayi adalah alat bantu menyusui yang menyenangkan

Tahukah sahabat letsgendong, beberapa Ibu setuju bahwa menyusui di tempat umum kadang menegangkan. Adanya bayi didalam gendongan sangat membantu Ibu saat menyusui. Nyatanya beberapa gendongan mempunyai kain penutup kepala bayi sehingga proses menyusui pun tidak kentara. Posisi bayi yang menempel dengan Ibu juga membantu membiaskan aktivitas menyusui. Dengan kata lain sahabat letsgendong leluasa menyusui dimana saja dan kapan saja berkat bantuan gendongan bayi ini.

 

Ingin mengetahui hal lain tentang menggendong bayi, seperti apa yang dipakai dan bagaimana menggunakannya?

Silakan mengikuti dan belajar bersama di Instagram @letsgendong atau bergabung di FB Grup Indonesia Babywearing Club 

Nantikan kuliah online yang dipandu konsultan menggendong setiap bulannya! Join Channel Telegram t.me/letsgendong

Begini Rasanya Repot Seorang Ibu

Begini Rasanya Repot Seorang Ibu

Gendong Bayi, Travelling With Baby

Malam itu terlihat ibu muda dengan bayi yang digendongnya. Ku tebak kira-kira umur si ibu 25 tahun-an dengan bayi berumur 6 bulan-an. Aku terdiam bersama puluhan orang asing di ruang tunggu bandara.
Lama terdiam dan ternyata pesawatku datang terlambat.
Ku lihat bayi itu mulai rewel sedangkan si ibu harus bawa beberapa tas. Repot! Sepertinya dia bepergian seorang diri tanpa saudara menemani.

Ku beranikan mendekati “Mau kemana, bu?”, tanyaku
– Saya tujuan Jakarta –
“Baik, saya bantu bawakan tas2 ibu, nanti sy titipkan ke petugas ya karena pesawat kita berbeda bu”

Sampai diujung gate, ku titipkan tas2 si ibu kepada petugas. Kami pun berpisah lalu memasuki pesawat masing-masing.

Hari beranjak pagi, dini dan sunyi. Ku naikkan resleting jaketku, dingin. Rasa lelah dan mengantuk campur jadi satu, berjalan lemah tapi pasti. Mendekati pintu keluar bandara, Ku menangkap sosok yang tak asing. Si Ibu dan bayinya yang masih terlelap dalam balutan gendongan kain.
Ternyata tas-tas si Ibu semakin banyak!!

Geleng-geleng kepala ini melihat tingkah si Ibu. Ku percepat langkahku mendekatinya “Hai bu, nanti dijemput saudara?” sapaku
– Tidak, saya pakai damri saja –
“Damri?!! Ini sudah jam 2 pagi, lebih baik naik taksi bu” terkejutlah ekspresiku. Entah di tahun berapa ku terakhir naik Damri bandara. Bagiku taksi adalah akomodasi ternyaman selama perjalanan dinasku, tak peduli ongkosnya. Si Ibu terdiam sejenak lalu menjawab – saya tunggu saja dibandara hingga subuh, kalau begitu –

“Bu…kasihan anak ibu, pasti kelelahan lebih baik taksi saja”
Ibu terdiam lagi…lalu dengan suara berat berucap
– Anak ini ditinggal bapaknya umur 2 bulan-  Hening dan meledaklah tangisan si Ibu.
– Saudara saya menunggu di cakung. Jadi sy perlu naik damri.. –

Bergetarlah naluriku, perjuangan seorang ibu jauh datang ke ibukota untuk masa depan anaknya. Menatap masa depan penuh nanar. Entah Bapaknya (Suami) peduli atau bahkan ingat memiliki anak.

“Ibu pegang uang berapa? Kira2 taksi+tolnya sampai tujuan berapa?” tanyaku memotong tangisnya.
– Kata saudara saya, naik Damri lebih murah daripada Taksi bisa 200ribu –
Tanpa pikir panjang ku buka dompetku “Ini ibu pegang uang untuk naik taksi, mari kucarikan taksi diluar”

Sembari terharu mengusap ilu dengan kain gendonganya, si ibu menunggu kedatangan taksi. Ku titipkan si Ibu dengan staff keamanan bandara, dua tentara menemani. Menenangkan pikiranku, yang sedari tadi berkecamuk berkhayal “bagaimana kalau dia ditipu orang? kesasar? diturunkan ditengah jalan?” Dini hari! Bawaan begitu banyak dengan bayi digendongan yang masih lelap tidurnya.

Mungkin, mungkin saja dia mencari suaminya yg pergi
Mungkin dia bertekad mengadu nasib di ibukota
Yang pasti Ibu ini berjuang demi si buah hati

“Bu… saya pamit, semoga lancar sampai rumah dan semuanya sehat. Saya sendiri teringat istri saya, kemana-kemana pergi hingga luar negeri hanya berdua dengan si bayi”

Salahkah? Gendong Bayi Di Sebelah Kiri?

Salahkah? Gendong Bayi Di Sebelah Kiri?

Gendong Bayi

Pada umumnya kebanyakan dari kita para orang tua, baik ayah maupun ibu terbiasa menggendong si kecil di sisi kiri, artinya kepala bayi ada di tangan kiri kita. Itu merupakan cara yang tepat dan benar. Menurut study yang dipublikasikan Januari lalu di Journal Nature Ecology and Evolution, 70-85 persen menggendong anaknya disebelah kiri. Ini bukan merupakan suatu kebetulan atau untuk membuat tangan kanan kita nyaman dan melakukan hal yang lainnya. Itu ternyata sudah diprogram demikian agar anak aman dalam gendongan kita.

Kita para orang tua sering melakukannya tanpa sadar saat menggendong anak. Secara otomatis kita meletakkan kepala anak di sisi tangan kiri kita tanpa diperintah. Merasa heran? Ternyata kita tidak sendirian, karena 85 persen para oran tua lainnya melakukan hal yang serupa, walaupun punya tangan kidal sekalipun.

Para peneliti dari Univeritas St Petersburg di Rusia, menyebut ini sebagai bias sisi kiri dan ada alasan penting mengapa hal itu terjadi. Ternyata menggendong bayi disebelah kiri tubuh kita memiliki keterikatan dan hubungan yang kuat terhadap anak. Alasannya otak kanan kita memproes terkait informasi dan informasi wajah, dengan si kecil ada pada sisi kiri, kita bisa membaca ekspresi wajahnya dan lebih tepat mengetahui apa yang diinginkannya.

Pada mamalia termasuk manusia, sisi kanan otak berfungsi untuk memproses isyarat sosial dan membangun hubungan. Ini juga bagian otak yang menerima sinyal dari mata kiri. Dengan meletakkan si kecil di sebelah kiri, mata kiri ayah dan ibu bisa menerima isyarat wajah anak lebih baik lagi dan meneruskannya ke otak kanan.

Saat bayi digendong disebelah kiri, otak kanan ibu menjadi aktif dan membantunya membangun ikatan dengan si kecil. Salah satu fungsi otak kanan adalah untuk mengartikan bahasa dan tanda-tanda emosional, karenanya Ibu lebih mudah mengartikan isyarat emosi dan fisik yang terjadi saat bayi digendong disebelah kiri. Tidak heran fenomena yang sama tidak hanya terjadi pada manusia saja, namun juga pada banyak hewan seperti walrus, paus orca, atau kanguru yang menempatkan anak disisi kirinya.

Oke ibu, jadi menggendong bayi disebelah kiri itu aman dan boleh ya, tidak perlu khawatir lagi dan semoga info tips ini bermanfaat untuk ibu semua.

Ingin artikel terkini terkait menggendong bayi? Mari bergabung dalam Facebook Support Group “Indonesia Babywearing Club” dan follow Instagram “@letsgendong”

 

Cara Tepat Menggendong Bayi dengan Selendang

Cara Tepat Menggendong Bayi dengan Selendang

Gendong Bayi

Gendong Bayi –  Pernah dengar “leher bayi belum kuat, disarankan jangan digendong tegak, nanti tulang punggung nya bengkok” atau “bayi masih kecil jangan digendong mengangkang, anti kakinya jadi “O”. Pernyataan itu sering muncul saat melihat bayi digendong, bahkan hal tersebut menjadi perbincangan panjang karena beda informasi dari orang dulu dengan ahli medis. Continue reading “Cara Tepat Menggendong Bayi dengan Selendang”

Cara Menggendong Bayi yang Nyaman dan Aman

Cara Menggendong Bayi yang Nyaman dan Aman

Gendong Bayi, Travelling With Baby

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Cara menggendong bayi –  Menggendong bayi merupakan salah satu hal yang menakutkan bagi sebagian Ibu, apalagi setelah melahirkan. Tubuh bayi yang mungil dan seolah-olah rapuh membuat Ibu jadi sangat hati-hati.

Jangan takut dengan sedikit belajar dengan keyakinan diri pasti kita para orang tua bisa menggendong bayi dengan luwes dan tidak canggung. Yakin dengan kemauan dan tekad yang kuat, maka beberapa saat kemudian naluri keibuan kita akan segera muncul dan membantu dalam mengurus si kecil

Mendekatlah pada si Kecil
Untuk mengangkat si kecil, pertama-tama mendekatlah pada si bayi, lalu selipkan satu tangan kita di bagian leher dan kepala untuk menyangganya. Lalu letakan tangan yang satu untuk menopang punggung dan pantat si kecil.

Letakkan Bayi di lipatan siku
Saat menggendong, rebahkan/letakkan kepala bayi dilipatan siku kita, lalu sangga pantatnya dengan telapak tangan. Sekarang si kecil bisa kita angkat dengan aman. Ingat lakukan semua gerakan ini dengan perlahan. Jangan lupa untuk memegangnya kuat-kuat, lalu perlahan lahan dekatkan bayi ke arah dada kita. Saat mengangkat bayi dari tempat tidurnya, posisi kepala sejajar dengan bagian tubuh lainnya sedangkan jika sudah dalam gendongan maka posisi kepla bayi harus selalu lebih tinggi dari bagian tubuh yang lainnya.

Dekatkan Bayi pada dada kita
Dengan mendekatkan bayi pada dada kita, maka bayi akan merasa senang karena bisa mendengar suara detak jantung kita orang tuanya.

Meletakkan Bayi
Untuk meletakkan si kecil di ranjangnya, turunkan tubuhnya terlebih dahulu hingga menyentuh kasur. Selama itu sangga atau pegang terus kepalanya, baru setelah tubuh bayi benar-benar aman diatas kasur, tarik tangan kita dari kepalanya secara perlahan-lahan.

TIPS :
Menggendong dipercaya sebagai salah satu cara untuk berkomunikasi dengan si kecil. Dengan menggendong dan menimang sikecil akan membuat mereka mersa nyaman dan tidak mudah rewel. Jika bayi akan digendong setelah diberikan ASI, gunakan kain lembut dan letakkan di bahu kita, sebagai alas baju kita, bila si bayi kemungkinan mengalami gumoh.

4 Kesalahan Didalam Menggendong Bayi yang Sering Bunda Lakukan

4 Kesalahan Didalam Menggendong Bayi yang Sering Bunda Lakukan

Gendong Bayi

Banyak cara menggendong bayi yang dapat dilakukan, dengan tangan langsung atau dengan bantuan alat gendongan bayi yang kini ada beragam jenis.

Menggendong bayi mungkin adalah pekerjaan yang sering dilakukan oleh para orang tua terlebih kaum Bunda. Namun banyak orang tua yang masih melakukan kesalahan dalam menggendong bayi, tidak hanya orang tua yang baru memiliki anak tapi ini juga terjadi pada orang tua yang sudah punya berpengalaman.

Berikut ada 4 kesalahan dalam menggendong bayi yang tanpa disadari biasa dilakukan Bunda
1. Saat menggendong melakukan aktivitas lain (yg membahayakan)
Memakai gendongan sering dilakukan Bunda dan Ayah karena bertujuan untuk melakukan aktivitas lain (dalam hal ini yg membahayakan namun sering dianggap lumrah). (Seperti contoh: menggendong sembari menggoreng ikan) ini sebaiknya jangan dilakukan. Meski menggunakan alat bantu keselamatan si kecil merupakan prioritas utama dan tetap diperhatikan. Bayi yang terus bergerak ke segala arah, sehingga sangat memungkinkan untuk jatuh (atau membuat hal hal berbahaya). Pengawasan Bunda harus tetap dibutuhkan pada saat ini. Hindari menggendong dengan melakukan aktivitas yang menggunakan alat seperti memasak (dan berkendara)

2. Tidak memberi akses oksigen kepada Bayi.
Menutup muka bayi saat menggendong, menjadi salah satu kesalahan yang Bunda lakukan. Ingin menjaga bayi dari debu (dan) sengatan panas matahari menjadikan Bunda untuk menutup muka si kecil. Namun ini akan membuat bayi tidak dapat bernafas. Banyak kasus kematian akibat kasus ini sudah sering terjadi. Bunda juga perlu memperhatikan posisi si kecil waktu tidur, jika dagu menempel pada dadanya segera perbaiki (berikan jarak pisah dagu dan dada sebesar 2-3 ruas jari Bunda), biarkan dagu si kecil menempel pada (dada) Bunda.

3. Menggendong terlalu rendah
Menggendong bayi terlalu rendah tidak hanya berdampak buruk kepada si kecil juga untuk Bunda. Bila menggendong bayi didepan usahakan kepala si kecil harus berada di dada. Jika digendong dibelakang usahakan kepala bayi bersandar di bahu. Hal ini akan menjaga agar kepala bayi tidak merosot kebawah. Pengawasan kepada si kecil akan lebih mudah.

4. Menggunakan gendongan yang tidak pas
Saat memakai gendongan, Bunda sering memakai gendongan yang tidak pas untuk si kecil. Yang penting murah, atau warnaya lucu. Disamping untuk kenyamanan bunda, gendongan dengan ukuran yang pas untuk bayi sangat dibutuhkan Gendongan tidak boleh terlalu ketat atau longgar. Hal ini untuk memastikan si kecil supaya tetap aman (dan nyaman).