Malam itu terlihat ibu muda dengan bayi yang digendongnya. Ku tebak kira-kira umur si ibu 25 tahun-an dengan bayi berumur 6 bulan-an. Aku terdiam bersama puluhan orang asing di ruang tunggu bandara.
Lama terdiam dan ternyata pesawatku datang terlambat.
Ku lihat bayi itu mulai rewel sedangkan si ibu harus bawa beberapa tas. Repot! Sepertinya dia bepergian seorang diri tanpa saudara menemani.

Ku beranikan mendekati “Mau kemana, bu?”, tanyaku
– Saya tujuan Jakarta –
“Baik, saya bantu bawakan tas2 ibu, nanti sy titipkan ke petugas ya karena pesawat kita berbeda bu”

Sampai diujung gate, ku titipkan tas2 si ibu kepada petugas. Kami pun berpisah lalu memasuki pesawat masing-masing.

Hari beranjak pagi, dini dan sunyi. Ku naikkan resleting jaketku, dingin. Rasa lelah dan mengantuk campur jadi satu, berjalan lemah tapi pasti. Mendekati pintu keluar bandara, Ku menangkap sosok yang tak asing. Si Ibu dan bayinya yang masih terlelap dalam balutan gendongan kain.
Ternyata tas-tas si Ibu semakin banyak!!

Geleng-geleng kepala ini melihat tingkah si Ibu. Ku percepat langkahku mendekatinya “Hai bu, nanti dijemput saudara?” sapaku
– Tidak, saya pakai damri saja –
“Damri?!! Ini sudah jam 2 pagi, lebih baik naik taksi bu” terkejutlah ekspresiku. Entah di tahun berapa ku terakhir naik Damri bandara. Bagiku taksi adalah akomodasi ternyaman selama perjalanan dinasku, tak peduli ongkosnya. Si Ibu terdiam sejenak lalu menjawab – saya tunggu saja dibandara hingga subuh, kalau begitu –

“Bu…kasihan anak ibu, pasti kelelahan lebih baik taksi saja”
Ibu terdiam lagi…lalu dengan suara berat berucap
– Anak ini ditinggal bapaknya umur 2 bulan-  Hening dan meledaklah tangisan si Ibu.
– Saudara saya menunggu di cakung. Jadi sy perlu naik damri.. –

Bergetarlah naluriku, perjuangan seorang ibu jauh datang ke ibukota untuk masa depan anaknya. Menatap masa depan penuh nanar. Entah Bapaknya (Suami) peduli atau bahkan ingat memiliki anak.

“Ibu pegang uang berapa? Kira2 taksi+tolnya sampai tujuan berapa?” tanyaku memotong tangisnya.
– Kata saudara saya, naik Damri lebih murah daripada Taksi bisa 200ribu –
Tanpa pikir panjang ku buka dompetku “Ini ibu pegang uang untuk naik taksi, mari kucarikan taksi diluar”

Sembari terharu mengusap ilu dengan kain gendonganya, si ibu menunggu kedatangan taksi. Ku titipkan si Ibu dengan staff keamanan bandara, dua tentara menemani. Menenangkan pikiranku, yang sedari tadi berkecamuk berkhayal “bagaimana kalau dia ditipu orang? kesasar? diturunkan ditengah jalan?” Dini hari! Bawaan begitu banyak dengan bayi digendongan yang masih lelap tidurnya.

Mungkin, mungkin saja dia mencari suaminya yg pergi
Mungkin dia bertekad mengadu nasib di ibukota
Yang pasti Ibu ini berjuang demi si buah hati

“Bu… saya pamit, semoga lancar sampai rumah dan semuanya sehat. Saya sendiri teringat istri saya, kemana-kemana pergi hingga luar negeri hanya berdua dengan si bayi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *